My Awesome World

Utari Putri Wardanti :D

August 10, 2012 10:14 pm

HATIKU BERKATA, AKU PASTI BISA !

Paramitha Firdasari, seorang siswi kelas XII SMA 56 sedang sibuk memandangi laptopnya. Ia sedang sibuk mencari informasi pendaftaran Perguruan Tinggi. Sebenarnya dari pertama masuk SMA, dia sudah menentukan mau diteruskan kemana pendidikannya. Akan tetapi, semakin hari bukan semakin yakin akan pilihannya, dia justru semakin berkecil hati. Dia selalu berfikir apakah dia bisa, dan dia merasa takut jika akhirnya dia gagal.
Hari berlalu begitu cepat, sampai akhirnya Meta menentukan kemana ia akan melanjutkan pendidikannya. Ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke luar kota. Ya, luar kota yang lumayan jauh dari kota dimana dia tinggal sekarang. Akan tetapi keputusannya itu ditentang keras oleh orang tuanya, dengan berbagai macam alasan.
Meta berusaha menjelaskan kepada orang tuanya.
“Ma, ayolah ma, ijinin aku.”
“Enggak, mama gak rela kalau kamu jauh-jauh. Kamu itu anak mama satu-satunya.”
“Mamaaa, nanti kan aku bisa sering pulang.”
“Yaudah, mama pikir dulu.”
Ibu Meta pergi begitu saja.
Sebenarnya bukan hanya karna jauh ibu Meta tidak mengizinkannya, tapi juga karena Universitas yang diinginkan Meta termasuk Universitas favorit dan saingan untuk masuk kesana tidaklah sedikit. Ibu Meta hanya tidak ingin anaknya gagal.
Setiap hari Meta menjelaskan perlahan-lahan kepada ibunya. Meta benar-benar menunjukkan keinginannya untuk melanjutkan belajarnya disana. Sampai pada suatu hari.
“Met, kamu kesini deh.” Panggil Ibunya.
“Kenapa ma?” Tanya Meta penasaran.
“Kamu beneran pengen kuliah disana?”
“Iya mamaaaa.”
“Kenapa harus disana? Kenapa gak disini aja Met. Disini Universitas juga pada bagus, Met”
“Meta juga gak tau ma kenapa Meta pengen disana. Tapi beneran Meta pengen disana ma. Kata hati Meta ma.”
“Tapi mama takut nak, bukannya mama nggak percaya sama kamu tapi kita tahu sendiri kan gimana saingannya kalo disana sayang? Mama cuman gak mau neliat anak mama gagal.”
“Percaya sama Meta deh ma, Meta pasti bisa. Hati meta aja udah bilang Meta disuruh kesana ma, pasti nanti aku bakal berusaha banget ma.”
“Yasudah kalau begitu, mama percaya Meta.”
“Jadi dibolehin ma?”
“Iya, mama ngijinin kamu.”
“Beneran ma? Trus papa gimana ma?”
“Nanti mama yang jelasin kalau urusan papamu diluar kota sudah selesai.”
“Makasih maa, mama cantik.” Puji Meta sambil memeluk Ibunya.
Beberapa bulan berlalu, Meta akhirnya dinyatakan lulus dari bangku SMA. Sekarang saatnya untuk berperang kembali untuk dapat diterima di Universitas impiannya. Setiap hari Meta belajar, ia juga mengikuti Bimbingan Belajar agar lebih paham dengan soal-soal masuk Universitas. Sebenarnya Meta sangat takut untuk menghadapi itu semua, karena Meta tidak terlalu pintar dan cita-citanya terlalu tinggi. Namun, setiap Meta merasa takut gagal, dia selalu ingat bahwa dia sudah berjanji pada ibunya. Meta juga selalu ingat film favoritnya sehingga apabila Meta sedang takut dia selalu memegang dadanya sembari berbisik “all iz well”.
Hari yang sudah ditunggu-tunggu Meta pun datang. Sebelum berangkat untuk melaksanakan ujian Meta memohon do’a restu kepada kedua orang tuanya. Pukul 07.30 Meta sudah memasuki ruang ujian, dia dihadapkan pada soal yang sangat banyak dan waktu untuk mengerjakan yang sangat singkat. Meta terus berdo’a kepada Tuhan. Meta memohon kelancaran dalam mengerjakan soal-soal di depannya. Meta mulai mengerjakan, dia hampir menangis. Soalnya benar-benar tidak seperti yang Meta pelajari selama ini. Meta terus berdoa dan memohon sembari memegang dadanya. Dia membuka matanya, dia mulai mengerjakan lagi dan akhirnya lonceng pun berbunyi. Saatnya semua peserta keluar dari ruangan.
Hasil seleksi akan diumumkan sebulan kemudian. Selama sebulan, Meta hanya di rumah dan jarang keluar. Dia masih merasa was-was bagaimana hasil pekerjaannya. Walaupun dalam hati Meta yakin bahwa dia akan berhasil tapi Meta sendiri belum bisa percaya dengan itu. Sampai pada akhirnya, hari dimana hasil seleksi akan diumumkan pun tiba. Meta tidak berani membuka hasil seleksi yang dimasukkan dalan amplop berwana putih itu. Akhirnya Ibu Meta yang membukakannya, Ibu Meta tiba-tiba menangis. Bukan karena Meta gagal, tapi karena dia membaca tulisan “DITERIMA” di dalam amplop itu.
Ibu Meta langsung memeluk Meta.
“Selamat ya sayang, kamu bisa.”
Mendengar itu, Meta menangis bahagia.
“Tuh kan ma, kata hatiku bener ma, aku bis ma, aku bisa.”
“Iya sayang, kamu bisa, anak mama bisa.”
Meta, Ibu dan Ayahnya kemudian berpelukan.
Semenjak saat itu Meta percaya bahwa jika ia mengikuti kata hatinya ia akan diberi imbalan yang menyenangkan.

( Utari Putri Wardanti – Ilkom 2012 )


10:03 pm
Kelompok Intuitif bersama dengan loper koran termanis di FISIP UNS yang senantiasa memberikan informasi kepada seluruh warga FISIP UNS :D

Kelompok Intuitif bersama dengan loper koran termanis di FISIP UNS yang senantiasa memberikan informasi kepada seluruh warga FISIP UNS :D

March 15, 2012 12:31 am

“saat aku berkata tidak mencintaimu lagi, ketahuilah, saat itu aku sdang berbohong :’))” (via: @makjlebb)

March 11, 2012 8:16 pm

“wong wedok kui kudu tegar” kata ibuk :’)

March 7, 2012 11:26 pm

Never tell a girl to calm down ( via @damnitstrue )

12:19 am
Singkat, tapi penuh makna.. Terima Kasih atas dukungannya, Bapak :’)

Singkat, tapi penuh makna.. Terima Kasih atas dukungannya, Bapak :’)

March 6, 2012 10:59 pm

Aku hanya takut, jika nanti pada akhirnya ada yang peduli padaku dan itu bukan kamu !

February 25, 2012 10:33 pm

Khayalan mampu melihat kenyataan secara utuh. Dimana masa lalu, masa kini dan masa depan bertemu. Khayalan tak terbatas oleh kehidupan nyata ataupun oleh tempat. Dia hidup dimana-mana. Dia ada di pusat getaran, yang menjangkau keseluruhan wilayah timur dan barat. Khayalan adalah kebebasan jiwa. Dia memahami segalanya dari segala sisi. Khayalan tidak melambungkan. Karena kita tidak ingin terbang, kita tak ingin tersadar - Kahlil Gibran

7:03 pm

Hubungan antara kau dan aku adalah hal yang paling indah dalam hidupku. Hubungan itu adalah yang paling hebat yang pernah kualami dalam hidup.

February 3, 2012 10:36 pm

Sejak pertama kali kulihat engkau, hal paling mendalam yang kurasakan adalah kejujuran, kecerdasan, dan kehangatan. Kini pun sama, hanya seribu kali lebih dalam dan lebih lembut. Aku mencintaimu sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau. Aku tau ini adalah takdir. Kini akan selalu bersama dan tidak ada yang akan memisahkan kita - Kahlil Gibran